Minggu, 29 Maret 2015

Kreasikan Batik Dengan Makanan


Hai BatiKrezi Viewers, pada tanggal 15 februari 2015 pukul 09.30 pagi toko In-gre'di.ents mengadakan kursus memasak bolu gulung Batik. Kursus ini Bertajuk Creative Culinaire The School Indonesia. Sekitar sembilan orang peserta yang hadir mengikuti  kursus memasak bolu gulung batik tersebut. 


Peserta yang ikut dalam cooking class tersebut terlihat sangat antusias ketika para peserta sedang mencoba mengaplikasikan motif Batik pada kue bolu yang ada. Team BatiKrezi mendapat kesempatan untuk mewawancarai Retno Dyah sebagai pengajar bolu gulung Batik dan juga sebagai pencetus bolu gulung Batik.


“Saya dari kecil berkecimpung di dunia Batik dan dulu bersekolah di pingir keraton, kebetulan teman-teman saya di rumahnya banyak usaha batik tulis dan saya tertarik dengan si embok-embok yang membuat batik tulis. Seiring berjalannya waktu saya suka membatik tapi untuk konsumsi sendiri”. Tutur Retno Dyah.

Retno Dyah mengatakan tercetusnya ide membuat bolu gulung Batik ini pada awal juni 2014. Ia dulunya tidak suka masak tapi suka dengan batik, bahkan basic awal beliau adalah melukis, anak dan suaminya pun juga seorang pelukis.


Beliau berhenti menjalani usaha Batik dan mendalami bidang kuliner. Di awali oleh temannya yang mengajarkan tentang bolu dengan menghias bolu motif Jepang dan suatu ketika ada teman dari Retno Dyah yang menelefon meminta di buatkan batik dan memang biasanya Retno Dyah tidak melipat kain Batik yang ia produksi melainkan menggulung Batik tersebut. Disitulah ide tentang bolu gulung Batik muncul.


Retno Dyah bahkan telah  mengajar tentang bolu gulung Batik ini hingga ke Batam, Surabaya, Pontianak, Jogja dan Bandung. Ia mengaku lebih sulit membatik di baju di banding di bolu. Bahkan untuk membuat Batik di 1 kain bisa memakan waktu 3 bulan, sedangkan di bolu hanya setengah jam sampai satu jam waktu yang di butuhkan dan bisa langsung terlihat hasilnya. 


Penggambaran batik di bolu bisa diajarkan dengan teknik, namun  bisa terlihat dari orang yang benar-benar menicntai batik yang sangat bersungguh-sungguh membuat motif tersebut ketimbang dengan orang yang hanya sekedar melukis batik di atas bolu tersebut. Hasilnya akan terlihat berbeda.

“Biasanya setiap saya mengajar saya selalu mengatakna tebarkan virus bolu  batik, yang kita tau virus itu akan menyebar dengan cepatnya. Harapan saya Batik itu Indonesia jangan di akui oleh negara lain. Mungkin dengan kain batik udah biasa namun  saya membawa bolu gulung batik, ke cintaan saya dengan batik bisa saya apresiasikan”. Itulah harapan Retno Dyah untuk bolu gulung batik.


Bolu gulung Batik merupakan hasil kreativitas anak bangsa, kreativitas dalam melestarikan budaya kita jangan sampai terhenti. Kita harus mencari cara untuk melestarikan budaya kita salah satunya dengan kreativitas.

1 komentar:

  1. How To Make Money On Sports Betting
    Online sports betting 출장안마 is herzamanindir.com/ available for a whole host of US and European sports https://jancasino.com/review/merit-casino/ betting งานออนไลน์ markets. Some US states, gri-go.com like Louisiana and New Jersey, allow

    BalasHapus